SURABAYA – Siswi kelas 9D SMP Muhammadiyah 14 Surabaya mengadakan kegiatan Pengajian Keliling bertema "Lisanmu, Cerminan Akhlakmu". Acara ini bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi sekaligus memberikan pemahaman keagamaan mengenai pentingnya menjaga tutur kata bagi para siswa.
Kegiatan yang menghadirkan Ustadz Didik Hermawan, M.Pd sebagai pemateri utama ini dilaksanakan pada Ahad, 27 September 2026, pukul 08.00 hingga 10.00 WIB. Pengajian berlangsung di kediaman Sabrina Putri Kinanthi yang bertindak sebagai Shohibul Bait, berlokasi di Jl. Kav. Banyu Urip Tirtosari III, Ngasinan, Kepatihan, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik.
Rangkaian acara dipandu oleh Safiqha Ayunindya P selaku Master of Ceremonies (MC). Suasana pengajian dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an oleh *Syaifa Hidayatul M*. serta penyampaian sari tilawah oleh Aisyah Syifa Putri Arwino.
Dalam kegiatan Pengajian Keliling dengan tema “Lisanmu, Cerminan Akhlakmu”, disampaikan oleh Ustadz Didik Hermawan, M.Pd bahwa menjadi seorang muslim, khususnya generasi muda, tidak cukup hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga harus memiliki semangat untuk terus belajar, beribadah, menjaga pergaulan, serta membangun akhlak yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Akhlak seseorang dapat tercermin dari bagaimana ia berbicara, bersikap, memilih teman, memperlakukan orang tua dan guru, serta menjalankan ajaran agama dalam kehidupannya.
Hal pertama yang ditekankan adalah semangat dalam menuntut ilmu. Semangat tersebut dikaitkan dengan wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW, yaitu Surah Al-'Alaq ayat 1–5. Ayat tersebut diawali dengan perintah Iqra’ yang berarti membaca. Hal ini menunjukkan bahwa Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap ilmu pengetahuan. Menuntut ilmu bukan hanya untuk memperoleh nilai atau prestasi, tetapi merupakan bagian dari proses membentuk manusia yang beriman, berwawasan, dan mampu memberikan manfaat bagi orang lain. Dalam penyampaian materi juga dikutip perkataan Imam Syafi'i tentang pentingnya belajar sejak dini, bahwa seseorang perlu terus menuntut ilmu sejak kecil hingga sepanjang kehidupannya. Pesan yang ditekankan adalah jangan pernah merasa cukup dengan ilmu yang dimiliki, karena kehidupan akan terus berkembang dan seorang muslim harus senantiasa belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Selanjutnya, disampaikan pentingnya semangat dalam beribadah. Seorang muslim tidak hanya dituntut untuk rajin beribadah, tetapi juga perlu memperhatikan tata cara pelaksanaannya agar sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Dalam konteks warga Muhammadiyah, pelaksanaan ibadah hendaknya berpedoman pada Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Muhammadiyah. Dengan demikian, semangat beribadah harus disertai dengan kemauan untuk mempelajari tuntunan agama. Ibadah yang dilakukan secara benar dan ikhlas diharapkan tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi juga mampu membentuk akhlak dan perilaku yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
Materi berikutnya membahas tentang pentingnya memilih teman yang baik. Lingkungan pertemanan memiliki pengaruh besar terhadap karakter dan kebiasaan seseorang. Teman dapat membawa seseorang kepada kebaikan, tetapi juga dapat memengaruhinya kepada perilaku yang kurang baik. Oleh karena itu, generasi muda perlu selektif dalam memilih teman dan membangun pergaulan. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang perlu berada di lingkungan yang saling mengingatkan dalam kebaikan, mendukung dalam belajar dan beribadah, serta menjauhkan diri dari perilaku negatif.
Hal tersebut kemudian dikaitkan dengan Surah Al-Hujurat ayat 12, yang memberikan peringatan agar manusia menjauhi prasangka buruk, tidak mencari-cari kesalahan orang lain, dan tidak melakukan ghibah. Ayat ini menjadi pengingat bahwa menjaga hubungan dengan sesama harus dimulai dari menjaga hati dan pikiran, kemudian diwujudkan melalui perkataan dan perbuatan. Oleh karena itu, tema “Lisanmu, Cerminan Akhlakmu”memiliki makna bahwa apa yang keluar dari lisan seseorang dapat menunjukkan bagaimana akhlaknya. Seorang muslim hendaknya membiasakan diri berbicara dengan sopan, berkata benar, tidak menyebarkan aib, tidak menghina, tidak menggunjing, dan tidak menyakiti perasaan orang lain. Sebelum berbicara, seseorang perlu mempertimbangkan apakah perkataannya membawa manfaat atau justru menimbulkan masalah.
Selain menjaga lisan dalam pergaulan dengan teman, disampaikan pula pentingnya menghormati dan menaati orang tua serta guru. Orang tua merupakan sosok yang telah memberikan kasih sayang, perhatian, pendidikan, dan pengorbanan dalam kehidupan seorang anak. Karena itu, seorang anak hendaknya berbicara dengan sopan, menghormati nasihat mereka, membantu ketika dibutuhkan, dan menaati perintah yang baik. Demikian pula dengan guru yang memiliki peran penting dalam memberikan ilmu dan membimbing siswa. Menghormati guru tidak hanya diwujudkan melalui ucapan, tetapi juga dengan memperhatikan ketika guru mengajar, menaati tata tertib, mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh, serta menjaga sikap dan perkataan di hadapan guru.
Pada akhirnya, materi pengajian menekankan bahwa ilmu, ibadah, pergaulan, dan akhlak merupakan bagian yang saling berkaitan. Semangat menuntut ilmu harus melahirkan pribadi yang semakin dekat kepada Allah, semangat beribadah harus membentuk perilaku yang baik, pertemanan harus menjadi sarana untuk saling menguatkan dalam kebaikan, sedangkan kemampuan menjaga lisan harus menjadi bagian dari akhlak seorang muslim. Generasi muda diharapkan tidak hanya menjadi anak-anak yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki keimanan, ketaatan beribadah, pergaulan yang sehat, serta akhlak mulia kepada Allah, orang tua, guru, teman, dan masyarakat.
Kesimpulannya, tema “Lisanmu, Cerminan Akhlakmu” mengajarkan bahwa kualitas seorang muslim tidak hanya terlihat dari apa yang diketahuinya, tetapi juga dari bagaimana ilmu tersebut diwujudkan dalam kehidupan. Karena itu, mari terus semangat menuntut ilmu, semangat beribadah sesuai tuntunan, memilih teman yang baik, menjaga lisan, serta hormat dan patuh kepada orang tua dan guru. Dengan demikian, ilmu yang diperoleh tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi menjadi bekal untuk membentuk pribadi yang berakhlak mulia dan bermanfaat bagi sesama.